Seandainya Gerakan Pentakosta Modern mulai di Solo Hadiningrat…

11 03 2008

Sewaktu saya membuat paper mengenai akar musik Pentakosta, sejauh yang dapat saya temukan, ternyata black music atau musiknya orang negro sangat kental mewarnai musik-musik Pentakosta awal; termasuk dalam tahap perkembangan selanjutnya. Contohnya saja, perhatikan musik-musik blues-nya orang negro, wah, mirip banget dengan melodi-melodi nyanyian bahasa roh yang dinyanyikan di gereja-gereja aliran Pentakosta-Kharismatik pada umumnya, bahkan hingga saat ini.

 

Btw, terus terang, saya cuma mau iseng aja nulis-nulis ini, abis udah lama blog ga aktif. Saya cuma membayangkan, (kerjaannya orang seni, membayangkan… hehehe), bagaimana yang jika Gerakan Pentakosta Modern mulainya di Solo Hadiningrat?? Jangan-jangan orang-orang Pentakosta-Kharistmatik sedunia pada jago “nembang“, J – “nembang” dalam roh!

Nembang” (huruf e dibaca seperti pada kata “kembang”) adalah bentuk kata kerja dari kata “tembang.” Dalam kebudayaan Jawa, mereka suka sekali menyanyikan tembang-tembang klasik semacam Pocung, Mijil, Maskumambang, dsb. Nah, tembang-tembang tersebut biasanya dinyanyikan dengan aturan nada pentatonik (5 nada). Nah, di sinilah letak isengnya, coba deh sekali-kali waktu pengin nyanyi dalam roh, buat variasi, melodinya diganti dengan melodi pentatonik. Kalau ga punya ide, bisa coba dengan contoh melodi ini, dengan tempo sangat lambat, coba aja… siapa tahu cocok, hehehe…. (gantian pemain musiknya bingung deh ngiringinnya…!) Asyiiiik dech!!!

1 3 4 5 7 . . . 7 5 3 4 5 3 . . . .

A – ku me-mu-ji… dan me-nyem-bah Eng-kau





75-80 Persen Bencana Alam Terkait Iklim

22 11 2007

2 Petrus 3:9-13
9 Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. 10 Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. 11 Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup 12 yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. 13 Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.

Saya percaya dengan sepenuhnya kepada Tuhan Yesus Kristus; Dia adalah Tuhan dan Firman-Nya pasti digenapi. Langit dan bumi ini yang kita tempat tempati sekarang sedang lenyap, tetapi Firman Allah akan tetap, kekal untuk selamanya. Amin!

21/11/07 19:17

Jakarta (ANTARA News) – Tiga perempat atau 75-80 persen bencana alam di bumi merupakan bencana yang terkait dengan iklim, seperti banjir, badai, penyakit, kekeringan, hingga longsor, kata Peneliti Senior pada Center for International Forestry Research (Cifor) Daniel Mudiyarso. “Dari grafik jumlah bencana alam yang tercatat sejak 1900 hingga 2003, bencana yang bersifat `hydro-meteorological` melonjak tajam pada dekade terakhir, jauh dibanding bencana biological yang naik namun sedikit atau bencana geological yang konstan,” kata Daniel di depan lebih dari 600 ilmuwan yang menghadiri Kongres Ilmu Pengetahuan (Kipnas) IX di Jakarta, Rabu. Sebanyak 33 persen bencana, ujarnya, merupakan bencana banjir, disusul badai 23 persen, kekeringan 15,2 persen, penyakit 15,2 persen, juga longsor 4,5 persen. Bencana gempa dan tsunami yang tak ada kaitannya dengan iklim hanya tujuh persen. Kerugian akibat bencana alam tercatat mencapai 140 miliar dollar AS pada 2004, tambahnya. Peningkatan frekuensi bencana alam yang tajam, katanya, baru terjadi pada sekitar tahun 1990-an yakni mencapai 2.800 kejadian per dekade, sementara pada 1940-an hanya sekitar 100 kejadian per dekade.

“Dampak perubahan iklim terhadap kehidupan sosial ekonomi manusia sudah tak terbantahkan lagi. Karena itu Indonesia sebagai negara yang rawan bencana dengan kapasitas adaptasi yang rendah perlu mempersiapkan diri,” katanya. Ia menambahkan, sebagai negara kepulauan, pulau-pulau Indonesia juga sangat rentan tenggelam, khususnya terkait prediksi yang menunjukkan pemanasan atmosfer dan lautan telah menyebabkan pencairan es kutub serta meningkatkan tinggi muka laut.

Penyebabnya sejak 1970 emisi gas rumah kaca (GRK) telah meningkat 70 persen dan konsentrasinya sekarang menjadi 350 ppmv, atau telah melampaui variasi perubahan alamiah selama 650 ribu tahun terakhir. Dalam satu abad ke depan peningkatan suhu rata-rata global akan mencapai 1,1-6,4 derajat Celcius dan tinggi muka laut 18-59 cm, ujarnya.

Copyright © 2007 ANTARA





“Oprah and Friends” To Teach Course on New Age Christ [Excerpts]

20 11 2007

Hello readers…

Sorry for “silent weeks..” – you know, I’ve got a new baby, very busy dady (sound good??? J)

This day I receive a mail about Oprah Winfrey and her New Age teachings. It was shocked me! I just want to warn you to be careful with wrong doctrines and teachings from many famous people.

I believe that the church today must be more carefully to teach the Word of God. There are many many wrong teachings outside there. Let us continue study the Word and preach the Word carefully.

KJV 1 Timothy 4:6 If thou put the brethren in remembrance of these things, thou shalt be a good minister of Jesus Christ, nourished up in the words of faith and of good doctrine, whereunto thou hast attained.

The Berean Call (http://www.thebereancall.org)
By Warren Smith

Oprah Winfrey will be letting out all the stops on her XM Satellite Radio program this coming year. Beginning January 1, 2008, “Oprah & Friends” will offer a year-long course on the New Age teachings of A Course in Miracles.1 A lesson a day throughout the year will completely cover the 365 lessons from the Course in Miracles “Workbook.” For example, Lesson #29 asks you to go through your day affirming that “God is in everything I see.”2 Lesson #61 tells each person to repeat the affirmation “I am the light of the world.”3 Lesson #70 teaches the student to say and believe “My salvation comes from me.”4 By the end of the year, “Oprah & Friends” listeners will have completed all of the lessons laid out in the Course in Miracles Workbook. Those who finish the Course will have a wholly redefined spiritual mindset-a New Age worldview that includes the belief that there is no sin, no evil, no devil, and that God is “in” everyone and everything. A Course in Miracles teaches its students to rethink everything they believe about God and life. The Course Workbook bluntly states: “This is a course in mind training”5 and is dedicated to “thought reversal.”6Endnotes:
1. http://marianne.com/book/index/htm
2. A Course in Miracles: Combined Volume (Glen Ellen, California: Foundation for Inner Peace, 1975), (Workbook), p. 45.
3. Ibid., p. 102.
4. Ibid., p. 119.
5. Ibid., (Text), p. 16.
6. Ibid., (Preface), p. ix.





Mengapresiasi Berbagai Gaya Musik

7 09 2007

Selalu ada orang-orang yang berselisih mengenai corak musik / gaya musik yang pas untuk suatu ibadah. Ada yang mengatakan musik dalam ibadah itu seharusnya khidmat, menggambarkan keagungan Allah. Ada yang lain mengatakan musik dalam ibadah seharusnya mengekspresikan dengan bebas “pujian dan penyembahan” kepada Allah dengan suara yang gegap gempita dan suasana emosi yang tinggi. Menurut saya, berbagai macam “selera” itu oke-oke saja asal digunakan secara proporsional dan tidak kehilangan esensi ibadah itu sendiri. Yang runyam, jika seseorang terlalu mengagungkan salah satu gaya musik dan menganggap itu adalah gaya musik yang diwahyukan dari Sorga, saya rasa itu terlalu berlebihan. Musik adalah ekspresi jiwa; dalam kaitannya dengan ibadah kepada Allah, itu berarti musik bisa menjadi media untuk mengekspresikan diri kita kepada Allah; ini bisa berarti ucapan syukur, sukacita, atau kesedihan, kesadaran akan dosa, penyembahan, dsb. Maka, sebagaimana kita masing-masing adalah pribadi unik, maka selera musik kita pun unik. Jadi, tidaklah perlu dipertentangkan mana gaya musik yang paling “alkitabiah.” Bagi saya, yang lebih penting untuk menilai suatu musik adalah “isi” musik itu sendiri (bukan kulit luarnya), penggubahnya, dan performer-nya – dan tentu saja, setelah itu perlu mempertimbangkan penggunaannya secara kontekstual sesuai dengan berbagai macam keadaan (situasi, kelompok umur, masyarakat, dsb). Misalnya, dalam konteks masyarakat Muslim konservatif, mungkin “kurang” cocok menggunakan pendekatan musik “band.” Atau, untuk konteks anak muda, mungkin “kurang” cocok menggunakan pendekatan musik yang “sunyi senyap.” Ini hanya coretan kecil saja, cuma ngajak kita semua untuk berpikir. Semoga bermanfaat!





Dosa-dosa Amoral

3 09 2007

Beberapa hari ini saya berpikir mengenai laporan-laporan angka yang cenderung meningkat mengenai penyalahgunaan seks dalam pergaulan para pemuda/pemudi sebelum mereka menikah – dan termasuk di dalamnya adalah anak-anak muda dari gereja! Menyedihkan memang… Gereja-gereja masa kini terkadang “terpaksa” atau “dipaksa” menikahkan para pemuda/pemudinya yang telah melanggar norma-norma kekudusan sebelum mereka menikah. Kata orang Jawa pernikahan sistem LKMD (lamaran keri, metheng disik: lamaran terakhir, hamil lebih dulu). Saya teringat teguran Tuhan bagi gereja di Pergamus (Wahyu 2:12) dan Tiatira (Wahyu 2:18) – gereja masa kini harus mendidik para pemuda/pemudinya untuk menjauhkan diri dari berbagai bentuk dosa-dosa seksual; gereja masa kini harus lebih berani dan lebih tegas dalam menegakkan prinsip-prinsip kekudusan ini. Artikel dari Christianity Today mengenai Cyber Sexuality ini mungkin bisa memperluas wawasan kita mengenai kenyataan ini.





Too Cool Ministries, haa…haa…

3 09 2007

Too Cool Ministries mencapai kesuksesan yang luar biasa dalam pelayanan mereka. “Rating” pelayanan mereka mencapai angka yang sangat tinggi. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya orang yang “menonton” pelayanan-pelayanan mereka. Tapi sayangnya, “rating” tertinggi ini dicapai bukan karena kualitas pelayanan mereka yang berbobot, melainkan justru karena pembahasan sangat ringan (ga perlu mikir berat), tidak berbobot, banyak “dagelan”, singers yang cantik-cantik, dst. Memang para “penonton” terhibur, tetapi tidak terdidik; penonton tertawa terpingkal-pingkal tetapi tidak pernah berubah. Kesimpulan saya, “rating” tertinggi dari pelayanan Too Cool Ministries tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas para “penontonnya”. Yaaahh, memang seperti pengakuan dari pemimpinnya sendiri, “Maaf kalau ada salah kata atau kata-kata yang tidak pas dengan para pendengar, kami tidak bermaksud apa-apa… hanya untuk menghibur saja…” heee…. hee… dengan kata lain, mision statement dari Too Cool Ministries adalah “pelayanan penghiburan yang mendatangkan kenikmatan dan sukacita.” Harap maklum!





NEW: Worship Tools: Guitar Edition!

15 08 2007

Guitar_2Worship Tools Guitar Edition features easy to play, user-friendly guitar arrangements of 20 modern worship favorites featuring the songs of Lincoln Brewster, Paul Baloche, United, Desperation Band and other top artists. A must-have resource for youth and college worship leaders, praise teams and musicians in any worship setting.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.